Tak terasa selesai juga tugas di negara ini. Sebelum kembali ke Jakarta, di sempatkan dulu untuk jalan-jalan di Lahore. Lahore merupakan kota terbesar kedua di Pakistan setelah Karachi. Ibukota Provinsi Punjab ini terletak di tengah dataran Indus dan dekat dengan Sungai Ravi, sungai yang terbentang antara 2 negara India dan Pakistan. Lahore merupakan kota budaya antara sejarah lama serta perkembangan dunia modern.
Dari Faisalabad, perjalanan darat menggunakan mobil menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam. seperti perjalanan sebelumnya ke Islamabad, perjalanan ini juga menggunakan jalan tol. Jalan Tol di sini luas, ada 3-4 lajur di setiap sisinya. Dan juga dilengkapi dengan banyak rest area, baik yang kecil, hanya berisi toilet, mushola, mini market, serta bengkal, dan ruang parkir, maupun yang besar yang juga dilengkapi dengan berbagai macam restoran dan kafe, Pom Bensin, ruang Parkir yang jauh lebih besar, bahkan ada yang dilengkapi dengan hotel atau penginapan.


Sesampainya tiba di pinggiran kota Lahore, kepadatan jalan mulai terlihat. banyak motor dan mobil berlalu lalang. diselingi sepeda, truk, bus. Sewajarnya kota besar, kemacetan sudah terasa di tengah udara yang terasa pengap dan penuh asap kendaraan. Sebelum masuk kota, terdapat beberapa Pos Pemeriksaan, hal yang lazim ditemui di Pakistan. kami berangkat menggunakan 2 mobil. Mobil kedua sempat dihentikan oleh petugas dan di tanyai perihal tujuan dan sebagainya. Tak lama, namun karena wajah-wajah kami terbilang “bule” di sana, cukup menjadi pusat perhatian. Tujuan utama kami berkunjung ke Masjid Badshashi dan Kota Benteng kuno Lahore.

Masjid Badshahi adalah masjid kerajaan pada era Kerajaan Mughal. Masjid ini dibangun antara tahun 1671 dan 1673 pada masa kepemimpinan Aurangzeb (Muhi al-Din Muhammad, 3 November 1618 – 3 Maret 1707). Masjid ini menjadi salah satu icon dari kota tua Lahore.

Masjid ini adalah salah satu contoh penting dari Arsitektur Mughal. Exterior bangunan dihiasi dengan pahatan batu pasir merah dengan dekorasi dari marble. Arsitektur ini mencerminkan karakter pendirinya yang memancarkan Keberanian, Kebebasan, Keagungan serta Kekuatan.

Masjid ini dapat menampung 100.000 jemaat. Halaman berbentuk kotak yang sangat luas di dalam bangunan benteng yang mengelilingi halaman depan. Dominan warna merah dan ciri khas bangunan tersemat juga pada dinding yang mengelilinginya. Pada setiap sudut benteng terdapat menara yang menjulang tinggi.

Sejarah panjang menyertai bangunan ini. Perubahan fungsi bangunan turut menyertai seiring perubahan kekuasaan. Bangunan ini pernah menjadi istal Kuda dan Onta, selain itu pernah juga menjadi Barak Pasukan serta gudang penyimpanan artileri.

Hiasan di masjid sendiri merupakan perpaduan arsitektur dari Indo-Yunani, Asia tengah, serta India dalam motif dan teknik arsitekturnya. Bangunan Masjid utama sebagai kamar berdoa berada diujung pintu utama. Bangunan ini terasa megah dikelilingi oleh hamparan halaman luas. Bangunan ini terbagi menjadi 7 bagian, dipisahkan oleh pintu lengkungan khas timur tengah. terdapat 3 kubah besar menghiasi bangunan ini.

Ornamen di dalamnya masih dapat terlihat, meskipun menurut ceritanya sudah banyak ornamen yang hilang ketika perpindahan kekuasaan. Ornamen baik Exterior maupun Interior didekorasi dengan pahatan marble putih dengan design berbentuk bunga yang umum digunakan pada seni Mughal. Pahatan pada masjid ini terlihat unik dan indah dibandingkan dengan arsitektur Mughal pada umumnya.

Bangunan Masjid ini memiliki plafon yang cukup tinggi, sehingga membuat ruangan terasa sejuk meskipun udara di halaman terlihat panas. Penggunaan lantai marmer juga menambah ke apikan serta menjaga suhu ruangan. Jaman dahulu belum ada speaker, arsitektur interior bangunan ini dibuat sedemikian rupa sehingga mampu mengantarkan suara dari mimbar utama sampai ke penjuru bangunan.

Berseberangan dengan Masjid Badshahi adalah benteng Lahore. Masjid ini juga satu kompleks dengan kota Benteng Lahore.

Cerita dibalik Kota Benteng Lahore akan dilanjutkan lagi berikutnya.. (bersambung)
