SEJUMI: Mewujudkan Mimpi Anak Perbatasan Melalui Literasi

Pulau Sebatik terletak di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, di Kalimantan Utara. Pulau ini dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Sebatik Indonesia dan Sebatik Malaysia, yang dipisahkan oleh garis perbatasan yang jelas. Dengan luas sekitar 80 km², Pulau Sebatik dikelilingi oleh laut Sulawesi di sebelah timur dan Selat Malaka di sebelah barat.

Pulau Sebatik. Doc.Google Maps

Meskipun memiliki potensi alam yang melimpah, kondisi pendidikan di Pulau Sebatik masih menghadapi berbagai tantangan. Akses terhadap fasilitas pendidikan yang memadai terbatas, dan banyak anak-anak di daerah ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sebagian besar sekolah yang ada merupakan sekolah dasar, dan tingkat kelanjutan ke jenjang pendidikan menengah sering kali rendah.

Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Pulau Sebatik terus dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari pemerintah, lembaga non-pemerintah, maupun komunitas lokal. Dengan harapan bahwa generasi muda di Pulau Sebatik akan memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan yang lebih baik dan memperbaiki kualitas hidup mereka.

Pada 22 Maret 2018, sebuah langkah penting untuk pendidikan di kawasan perbatasan dimulai dengan pembukaan Rumah Baca Teras Perbatasan (RBTP). Diprakarsai oleh Suprianto Haseng, yang akrab disapa Yanto, RBTP merupakan bagian dari SEJUMI (Sejuta Mimpi Anak Batas)—sebuah organisasi relawan yang mengabdikan diri untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan anak-anak di daerah terpencil.

Bersama mahasiswa asal Pulau Sebatik lainnya yang kini menetap di Jakarta, Yanto mendirikan RBTP sebagai tempat belajar yang sangat dibutuhkan. Mereka mengumpulkan buku-buku untuk dikirim ke Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, di mana akses literasi sangat minim. Terletak di Teras Utara Negeri, RBTP hadir di tengah masyarakat yang termasuk dalam kategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), menjadikannya sebagai tempat yang penuh harapan.

RBTP tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai tempat bermain dan membangun relasi sosial. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap anak-anak yang jarang sekali membaca buku di luar kurikulum sekolah. Oleh karena itu, kami bertekad mengumpulkan buku bacaan yang bermanfaat dan menyajikannya dalam suasana yang sederhana namun penuh kehangatan.

Sejak tahun 2017, kami telah aktif mengirimkan buku ke Pulau Sebatik dan daerah sekitarnya, didukung oleh PT Pos Indonesia. “Kami mulai mengirimkan buku dari 2017 hingga 2020,” jelas Yanto dalam wawancara dengan Radio Idola. Kini, anak-anak di Pulau Sebatik memiliki kesempatan untuk membaca, meskipun di sana tidak terdapat toko buku.

Kerjasama Pengiriman Buku dengan PT POS. Doc Radio Idola

Akses terhadap ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi masyarakat. Dengan pengetahuan, mereka dapat memahami informasi yang selama ini dianggap sepele, dan ini berpotensi meningkatkan kualitas hidup mereka. Kami berharap rumah baca ini dapat memberikan manfaat nyata dan pengetahuan yang berharga bagi masyarakat desa.

RBTP berupaya menawarkan pengalaman “berwisata” pengetahuan yang lebih berkualitas. Kami percaya generasi muda di Sebatik memiliki potensi luar biasa untuk mengubah status daerah 3T menjadi wilayah yang unggul dalam pendidikan, moralitas, dan kualitas sumber daya manusia, serta berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI.

SEJUMI dalam senyuman Doc. Radio Idola

Melihat kebahagiaan anak-anak saat menerima buku adalah momen yang sangat berarti bagi kami. Selain perannya sebagai pendiri SEJUMI, Yanto juga menjabat sebagai Direktur Program dan Kepala Media di Millenial Talk Institute, serta Penyuluh Antikorupsi Tersertifikasi LSP KPK RI. Atas dedikasi dan usahanya, Yanto menerima penghargaan dari SATU Indonesia Awards Tingkat Provinsi 2023.

Dengan SEJUMI, kami berharap untuk terus memberikan akses pendidikan dan literasi kepada anak-anak di daerah perbatasan, sehingga mereka dapat mengejar impian mereka dengan lebih baik. Mari bersama-sama kita dukung langkah ini demi masa depan yang lebih cerah.

Suprianto Haseng. Doc. Radio Idola

Tinggalkan komentar