Sebuah kisah inspiratif tentang Setya Gustina, seorang petani milenial yang telah membuat langkah berani dengan kembali berkarir di kampung halamannya di Cianjur. Meskipun latar belakang pendidikannya di Perdagangan Internasional, kondisi keluarga besarnya yang sudah lama menjadi petani yang sudah mandiri, membuatnya memilih untuk terjun ke dunia pertanian. Setya mendirikan Rumah Petani Indonesia, yang kini menjadi tempat berkumpul bagi para petani yang ingin mengembangkan usaha pertanian mereka, khususnya jagung.

Jagung menjadi fokus utama Setya karena potensinya yang besar di daerah Cianjur, yang minim pesaing. Cianjur terkenal sebagai lumbung padi Nasional, dan pada saat itu jagung yang beredar di pasaran Cianjur dikirim dari daerah lain seperti Jawa tengah dan Jawa timur. Saat ini, mereka mengelola lahan seluas 86 hektar dan melibatkan sekitar 600 petani binaan. Selain itu, Setya juga memiliki visi yang jauh ke depan: menjadikan Cianjur, yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, sebagai daerah swasembada jagung pada tahun 2025.
Salah satu langkah inovatif yang diambilnya adalah memfokuskan pemasarannya pada sektor peternakan. Jagung hibrida yang ditanamnya tidak hanya untuk konsumsi manusia, tetapi juga sebagai pakan ternak. Dalam beberapa waktu terakhir, Setya berhasil mengekspor jagung beku ke berbagai negara seperti Amerika, Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan Rumah Petani Indonesia memiliki kualitas yang diakui di pasar internasional.
Keberhasilan Setya tidak lepas dari cara budidaya yang efisien. Dia memanfaatkan setiap bagian dari tanaman jagung, mulai dari batang hingga bonggol, sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia. Awalnya, mereka hanya mengembangkan lahan sekitar 1,5 hingga 3 hektar. Namun, berkat kerja sama yang baik dengan berbagai pihak, kini total lahan jagung yang dikelola telah mencapai 135 hektar.

Salah satu momen penting dalam perjalanan ini adalah kegiatan Panen Raya Jagung yang diadakan di Desa Babakan Karet. Dalam acara tersebut, Setya bersama PT. Hextar Fertilizer Indonesia, menunjukkan hasil panen yang memuaskan. Hasil dari lahan 3 hektar menunjukkan bulir jagung yang penuh, dengan estimasi hasil mencapai 6-7 ton per hektar. Ini adalah capaian yang membanggakan dan menjadi contoh nyata bagi petani lain di daerah tersebut.
Setya juga berbagi kunci sukses dalam budidaya jagung, yang terletak pada pemberian nutrisi yang tepat untuk tanaman. Dia menggunakan pupuk NPK COCKHEAD yang dirancang khusus untuk meningkatkan pertumbuhan jagung. Pupuk ini mampu memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman, sehingga hasil yang diperoleh menjadi optimal dan berkualitas tinggi.
Melihat hasil panen yang mengesankan, Ibu Yanti, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, memberikan apresiasi. Dia menilai bahwa hasil yang diperoleh Rumah Petani Indonesia bisa menjadi contoh yang baik untuk petani jagung lainnya di daerah tersebut.
Setya percaya pada kekuatan kolaborasi antar petani dan mengatasi tantangan bersama, seperti kelangkaan pupuk dan harga yang tinggi. Dia berkomitmen untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman, serta mendorong petani lain untuk beralih ke budidaya jagung yang lebih menguntungkan. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan komunitas dan pendidikan, berusaha untuk memberdayakan generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian dan memanfaatkan potensi alam yang ada.
Dengan pendekatan yang inovatif dan kerja sama yang kuat, Setya Gustina telah membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi peluang yang menjanjikan. Keberhasilan yang diraihnya juga diakui dengan penghargaan SATU Indonesia Awards tingkat provinsi pada kategori Lingkungan. Ini menjadi motivasi bagi banyak petani muda untuk terus berkarya dan berinovasi di bidang pertanian.

Dari kisah Setya, kita dapat belajar bahwa dengan keberanian untuk kembali ke akar dan menggali potensi lokal, kita bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Semoga visi Setya untuk menjadikan Cianjur sebagai swasembada jagung dapat terwujud, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk ikut serta dalam membangun pertanian yang lebih baik di Indonesia.