Pakistan, Short escape??

Cocok gak ya judulnya? hahaha.. dibilang liburan juga enggak sebenarnya, karena kesini juga ada tugas kantor. Jadi tujuannya KERJA dan KERJA.

Apa yang terpikir ketika mendengar nama negara Pakistan? pasti gak jauh-jauh dari negara tetangganya India. Negara yang terletak di kawasan Asia Selatan ini memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak didunia sebanyak 240.8 juta jiwa1, mengalahkan Indonesia. Melihat jumlah penduduk sebanyak itu pasti terbesit bagaimana padatnya di sana.

Selain jumlah penduduk yang tidak sedikit, keadaan geografi Pakistan juga cukup beragam. Di kawasan Utara negara ini terdapat Gunung K2, yang merupakan gunung tertinggi ke dua di dunia setelah Everest. Diwilayah selatannya terdapat pantai sepanjang 1.046km sepanjang Teluk Oman dan Laut Arab. Selain itu juga ditengah-tengah terdapat kawasan Plato Baluchistan yang berstruktur kering dan berbatu, berbatasan dengan Afganistan dan Iran. Serta Gurun Thar yang terletak di tenggara dan berbatasan dengan India. Keanekaragaman keadaan geografi ini tentunya memberikan daya tarik tersendiri. Jiwa petualangku meronta-ronta untuk menjelajah setiap sudut keunikan tersebut. Namun kesini tujuannya buat KERJA, jadi ya di tahan dulu. Selain itu ada juga kekhawatiran terhadap keamanan untuk wisatawan asing. Jadi cerita di sini bisa dibilang “short escape” because i really want to have more long exploration.

Disclaimer, Perjalanan ini aku lakukan pada tahun 2023, jadi mungkin ada ketidaksesuaian kondisi dengan saat-saat ini ataupun di waktu lampau. Dan aku mencoba mengingat-ingat kembali, jadi kalaupun ada yang terlupa atau terlewatkan harap maklum.

Berangkat dari Jakarta, karena tiket dibelikan oleh kantor, jadi transitnya di Dubai. Senang rasanya bisa transit di salah satu bandara international besar di Dunia, namun realitasnya tidak demikian. Transit hanya 1 jam, harus masuk pemeriksaan, pindah terminal, mencari gate keberangkatan, kebelet pipis, dan lain-lain. Silakan dibayangkan sendiri. Cerita sedikit dengan penerbangan ini, berangkat aku bawa 2 koper, 1 koper besar buat bagasi, 1 koper kecil buat kabin, Tote bag buat camilan minum dan surat-surat berharga. Ini bukan penerbangan internasional pertamaku, jadi aku pikir itu sudah aman. Ternyata tidak. Koper kabin yang aku bawa disuruh dimasukkan ke bagasi, dengan alasan “terlalu besar”. Padahal itu koper selalu di kabin dari penerbangan-penerbangan sebelumnya, dan aku isi Laptop, kamera mirrorless, drone, dan aksesorinya. waktu Check-in di CGK kopernya diminta dibuka buat di check, aku buka dan memang isinya demikian dan aku gak mungkin taruh di bagasi. Akhirnya setelah diskusi dengan manager yang bertugas, koper ini diizinkan masuk bagasi dengan tag berisi laptop, kamera, drone.

sesampainya di Dubai setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam, langsung disambut dengan antrean pemeriksaan keamanan X-ray sebelum masuk bandara cukup mengular panjang. Biasanya laptop dikeluarkan, waktu aku mau mengeluarkan laptop, petugasnya bilang tidak usah. Lega tidak usah bongkar muatan. Setelah masuk X-ray bagasinya, eh petugas yang dimonitor meminta agar di keluarkan laptopnya. Dalam hati sudah ada kebun binatang siap loncat keluar, namun ingat TRANSIT 1 JAM. Langsung gercep bongkar laptop dan antre lagi. Aman dan kembali packing koper kabin, segera meluncur ke terminal selanjutnya. Bye-bye ngopi santai di Dubai, kaki ini segera meluncur ke gate yang dituju. perjalanan mungkin sekitar 15 menit ke gate selanjutnya, dan sampai di sana boarding sudah dimulai. Oh ya, lupa appreciate petugas check-in CGK. Karena tahu aku transit cuma 1 jam, jadi kursi duduk di pesawat ditaruh di daerah depan, sehingga cepat keluar masuk pesawat. Kejadian yang sama terulang ketika boarding check-in, di mana koper kabinku disuruh memasukkan ke Bagasi. Lagi-lagi mengeyel dengan menunjukkan tag yang dikasih di CGK, akhirnya diizinkan walau dengan muka sebel abangnya. Dan lanjut terbang ke Pakistan. Perjalanan ini kurang lebih 4 jam.

Landing di Allama Iqbal International Airport Lahore. Kesan pertama mendarat di sini, Panas. Cuacanya mirip dengan Jakarta, padahal landing pukul 3 dini hari.

Selain soal panas, bandaranya kelihatan seperti bandara tua. Design simple dan tidak besar. Mungkin sama kayak Bandara Semarang atau Jogja sebelum ganti ke yang baru saat ini. Proses imigrasi cukup menegangkan, meski wajah asia dengan jenggot tebal, tetap saja mata ini waspada dan hati jedag-jedug. Ada banyak orang yang bertugas di imigrasi di luar loket-loket, jadi mengesankan kayak calo dan otomatis yang di pikiran nanti di palak. Dengan Pede ambil jalur imigrasi international yang biasa. Prosesnya tidak memakan waktu lama, dokumen sudah di cetak semua dan lengkap, cap paspor selesai. Keluar dari imigrasi masih ada petugas yang kembali mengecek paspor dan visa sebelum keluar ke daerah umum.

Tidak jauh dari bagian imigrasi, tempat pengambilan bagasi, kalau tidak salah hanya ada 2 atau 3 line. Koper bagasi sudah keluar, jadi tidak memakan waktu lama. Ada petugas yang menawarkan membawakan bagasi, tapi aku tolak, dia agak memaksa dengan bilang kalau official, tapi aku tetap jalan keluar. Di Pintu keluar aku bingung, siapa yang akan menjemput? haha.. Kembali lagi dengan Pede jalan terus sambil melihat-lihat orang-orang yang menunggu sanak saudaranya. Ramai untuk ukuran pukul 3.45 pagi, sampai akhirnya aku melihat ada orang membawa papan nama perusahaan. ALHAMDULILLAH, sudah lega rasanya.

Suasana pagi tetap terasa Panas, kalau sudah terbiasa di Indonesia apalagi di Jakarta tidak heran lagi. Sepanjang jalan keluar bandara, terlihat banyak petugas keamanan bersenjatakan laras panjang. sudah terbayangkan situasi keamanan di sini seperti apa. Keluar dari kompleks bandara langsung ke jalan Tol. Supir yang menjemput bisa berbahasa Inggris walau terbata-bata. Tidak heran karena negara ini dulu dikuasai Inggris. Sepanjang perjalanan terbayangkan sedang berjalan di kota-kota Indonesia jaman 80an, suasananya, kendaraannya, Orang-orangnya. Motor yang dipakai sejenis RX-King, mobil cukup beragam, Truk dan Bis-nya khas, Rame banget aksesorinya dan catnya. Sayangnya tidak berhasil mendokumentasikannya.

Terdengar suara Adzan Subuh. Mirip dengan suasana Subuh di Indonesia. Lalu-lintas masih sepi, didominasi dengan truk-truk dan kendaraan kecil. Mampir dulu buat Nge-teh, mungkin sopirnya agak mengantuk. Perjalanan Faisalabad-Lahore kurang lebih 2-2.5 jam, berarti dia sudah berangkat sejak pukul 12/1 pagi dari Faisal abad.

Teh di sini disebut Chai. Serupa dengan Teh Tarik Malaysia, teh bercampur susu. Biasanya dimakan dengan roti cane. Enak menurutku, pagi-pagi minum teh dipinggir jalan raya. Serasa di Pantura, mampir buat ngopi.

Melanjutkan perjalanan ke Faisalabad. Selama di perjalanan ketemu lagi sesuatu yang unik. Di sini traktor sangat kuat, masih sering digunakan untuk menarik apa pun, bahkan ada ketemu traktor tarik kontainer.

Sesampainya di Faisalabad, jalanan besar bersampingan dengan kanal untuk pengairan sawah dan ladang. Infrastruktur jalan rapi dan halus. Di beberapa persimpangan dibuat underpass, sehingga tidak terlihat kemacetan panjang. Ketika kota bergeliat, motor dan mobil berlalu lalang meramaikan jalanan. Terlihat banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm. Pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia jaman dahulu.

Saya menginap di salah satu club house yang cukup mewah di Faisalabad, Circle Club. Di sini terdapat Komplek olahraga yang cukup lengkap, dari Billyard, Gym, Kolam Renang, bahkan lapangan Squash.

Sesampainya Di sini, pekerjaan pun dimulai..

jalan-jalannya next post..

  1. Berdasarkan World Population Review 2024 ↩︎

Tinggalkan komentar