Ekonomi Halal Dalam Dunia Yang Majemuk

Pertumbuhan ekonomi dunia menunjukkan trend yang lebih baik dibandingkan dengan prediksi sebelumnya. Dalam Economic Outlook pada Mei 2024, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebanyak 3.1%, proyeksi ini lebih tinggi daripada proyeksi pada Februari 2024 di mana OECD memperkirakan kenaikan 2.9%. Hal senada juga disampaikan International Moneter Fund (IMF) dalam proyeksi World Economic Outlook April 2024 di mana pertumbuhan Produk Domestic Bruto (PDB) global mencapai 2.4% pada tahun 2024. Hal ini naik 0.1% dari proyeksi Januari 2024.

Terlepas dari situasi global COVID-19, perekonomian dunia menunjukkan peningkatan perlahan. “Saat ini, Ekonomi global menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Hal ini dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang stabil serta inflasi yang menurun, namun masih banyak tantangan di depan mata,” kata kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas seperti dikutip Reuters, Rabu (17/4/2024). Pernyataan ini tentunya sangat erat dengan situasi dan perkembangan Geopolitik global saat ini. Peperangan di beberapa tempat secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan ekonomi global. Konflik Israel dan Hamas serta Ukraina mempengaruhi harga komoditas utama seperti minyak dan gandum. Selain ketidakstabilan harga komoditas tersebut, konflik yang berkepanjangan ini juga mempengaruhi jalur transportasi antar benua. Ongkos biaya transportasi melalui kapal mulai merangkak naik, sedangkan perjalanan udara terkadang terkendala oleh zona-zona larangan terbang imbas konflik ini. Hal-Hal tersebut hanya sebagian kecil indikasi akan keadaan ekonomi yang masih memiliki banyak tantangan ke depannya.

Kemudian bagaimana peran Perekonomian Halal dalam ekonomi global ini? Akankah Ekosistem Halal dapat menjadi solusi dalam perkembangan ekonomi yang labil saat ini? Apakah mampu mendorong perekonomian ke jenjang yang lebih tinggi?

Saat ini pertumbuhan populasi muslim di dunia menunjukkan tren yang signifikan. Menurut data Global Muslim Population jumlah penduduk muslim di dunia mencapai 2,02 milyar atau sekitar 25% dari total penduduk dunia. Pertumbuhan ini tidak terbatas hanya kepada negara-negara yang mayoritasnya muslim seperti Timur Tengah, Asia Tenggara, tetapi juga kawasan lain yang seperti Afrika Utara, sub-sahara, bahkan Eropa dan Amerika. Menurut World Population Review, pada 2050 umat Muslim akan bertumbuh 30% dan memungkinkan menjadi Agama dengan penganut terbesar didunia melebihi Kristen/Katolik. Dengan pertumbuhan yang berkelanjutan ini, populasi Muslim diperkirakan akan terus meningkat dan dapat memberikan dampak yang signifikan pada aspek sosial, ekonomi, dan politik di banyak negara.

Dengan perkembangan tersebut, system kehidupan berbasis ke-Islam-an akan dapat mempengaruhi perkembangan secara global, termasuk ekonomi. Sistem ekonomi Islam selalu berbasis kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Tujuan utama dari penggunaan system ini agar umat Islam dapat melakukan transaksi yang baik dan benar baik secara hukum maupun iman, serta menghindari dari hal-hal yang buruk seperti riba, ihtikar, haram, dan lain-lain. Prinsip ini didasarkan pada Syariah, moral dan akidah dengan dasar bahwa sejatinya harta ini sepenuhnya adalah milik Allah. Dengan pelaksanaan prinsip-prinsip ini, umat Islam diharapkan bukan hanya mendapat keuntungan fisik semata, namun juga ketenangan batin dan menambah nilai keimanan.

Dengan dasar ini, dikenallah sistem Ekonomi Halal. Ekonomi halal telah menjadi topik penting dalam diskusi ekonomi global, terutama di negara-negara dengan populasi Muslim yang besar. Di Indonesia, ekonomi halal tidak hanya mencakup aspek makanan dan minuman tetapi juga meluas ke sektor-sektor lain seperti pariwisata, farmasi, dan kosmetik. Pertumbuhan ekonomi halal di Indonesia menunjukkan potensi yang signifikan, dengan konsumsi produk halal yang merupakan yang terbesar di dunia, mencapai USD 200 miliar pada tahun 2017, yang setara dengan 20% dari PDB negara. Ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai halal, yang menekankan pada produk yang aman, sehat, bersih, ramah lingkungan, dan berkualitas, semakin dicari oleh konsumen.

Pada tingkat global, konsep Halal Economy telah berkembang melampaui batas-batas agama, menjadi industri yang kompetitif dalam perdagangan internasional. Dengan pertumbuhan belanja produk halal yang diperkirakan meningkat dari USD 2 triliun pada tahun 2021 menjadi USD 4,96 triliun pada tahun 2030, ekonomi halal menawarkan peluang ekspor dan investasi yang besar. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, memiliki peran penting dalam pasar halal global. Menurut laporan, Indonesia berada di peringkat kedua secara global dalam sektor makanan dan minuman halal, dan masuk dalam 20 besar eksportir produk ekonomi halal dunia.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, Indonesia telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengembangkan ekosistem halal, baik dari segi regulasi, sertifikasi, maupun kerjasama internasional. Pada tahun 2023, Indonesia berhasil menduduki peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) yang merupakan bagian dari State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report, naik dari posisi keempat di tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan hasil nyata dari upaya penguatan ekosistem Jaminan Produk Halal (JPH) yang telah dilakukan, termasuk dukungan besar terhadap UMKM lintas sektor dan percepatan sertifikasi halal.

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah strategis dalam mendukung industri halal, seperti transformasi layanan sertifikasi halal yang kini lebih mudah, cepat, transparan, dan terjangkau. Salah satunya adalah Program Sehati, program ini merupakan inisiatif yang memungkinkan sertifikasi halal gratis bagi pelaku UMKM, yang sangat membantu dalam meningkatkan aksesibilitas dan inklusivitas dalam ekosistem halal. Selain itu, Indonesia juga aktif menjalin kemitraan global, seperti kerjasama jaminan produk halal dengan negara-negara seperti Iran, Chile, Argentina, Hungaria, Belarus, dan Turki. Inisiatif seperti forum Halal 20 (H20) yang diadakan di Jakarta juga menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri halal global dan memperkuat kemitraan halal internasional.

Sebagai pendukung dalam ekosistem halal ini, Bank syariah memainkan peran penting dalam ekosistem halal global dengan menyediakan solusi keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Di Indonesia, Bank Syariah Indonesia (BSI) telah menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung ekosistem halal, tidak hanya sebagai penyedia layanan keuangan tetapi juga sebagai pemain utama dalam industri halal. Dengan populasi Muslim terbesar kedua di dunia, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri halal global. BSI, melalui penggabungan tiga bank syariah negeri pada tahun 2021, telah berkembang menjadi salah satu dari 10 Bank Islam Global Terbaik dari segi permodalan pasar. Ini menunjukkan bahwa bank syariah dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi halal, termasuk dalam sektor riil dan sosial. Selain itu, BSI telah membuka cabang operasi di Dubai dan sedang dalam proses untuk membuka cabang di Arab Saudi, yang akan lebih memperluas jangkauan layanannya, khususnya dalam melayani kebutuhan haji dan umrah. Bank ini juga telah menjadi penyumbang zakat terbesar di Indonesia, menunjukkan peran sosialnya dalam mendukung komunitas. Dengan meningkatkan literasi keuangan syariah, bank syariah seperti BSI dapat mendorong lebih banyak produsen untuk masuk ke dalam ekosistem halal, yang pada gilirannya akan memperkuat ekonomi halal dan meningkatkan inklusi keuangan.

Pengembangan sektor-sektor produktif juga menjadi target unggulan untuk memperkuat ekosistem halal. Dengan prinsip-prinsip syariah, BSI berkomitmen untuk memaksimalkan potensi produk-produknya dan mendukung perkembangan ekosistem ini. Dengan pasar Indonesia yang populasi penduduk muslimnya salah satu terbesar di Dunia, BSI diharapkan dapat menumbuhkan bisnis-bisnis dan kewirausahaan berbasis syariah serta menyokong dunia mulai dari pertanian, makan dan minuman halal, pariwisata halal, fashion dan kosmetik, automotive, sampai ke ekosistem bisnis umrah dan haji. Rantai ekonomi Halal ini diharapkan dapat menumbuh kembangkan perekonomian Indonesia secara umum dan pada akhirnya akan merambah ke ekonomi global.

Bank Syariah Indonesia (BSI), telah menunjukkan kemampuan dalam mendukung ekosistem halal melalui kekuatan permodalannya. Namun, masih ada tantangan dalam meningkatkan literasi ekonomi syariah di tengah masyarakat, yang diperlukan untuk memahami dan mengadopsi prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Dengan strategi yang terfokus pada pengembangan bisnis halal, seperti pembiayaan yang ditargetkan dan kerjasama antar lembaga, Bank Syariah Indonesia berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Ini mencakup dukungan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di industri halal, yang merupakan tulang punggung ekonomi dan sumber inovasi. Dengan demikian, bank syariah tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan tetapi juga sebagai katalisator dalam memajukan industri halal, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi halal di Indonesia juga diharapkan dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) negara secara signifikan, dengan peluang ekspor dan investasi yang terbuka lebar diperkirakan sebesar USD 5,1 miliar per tahun. Ini menunjukkan bahwa ekonomi halal tidak hanya penting bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan tetapi juga bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, ekonomi halal dapat menjadi sumber pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan, memberikan manfaat tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia yang majemuk. Namun, tantangan masih ada, seperti terfragmentasinya tata kelola industri halal nasional dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam praktik produksi halal. Pemerintah Indonesia telah menanggapi tantangan ini dengan berbagai langkah strategis, termasuk peningkatan standardisasi dan sertifikasi halal yang kuat, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dalam industri halal.

Secara global, permintaan terhadap produk halal terus meningkat, dengan Eropa sebagai salah satu pasar yang menjanjikan, di mana permintaan produk halal meningkat rata-rata 15 persen per tahun. Ini menunjukkan bahwa ekosistem halal tidak hanya berkembang di negara-negara dengan populasi muslim mayoritas, tetapi juga di negara-negara non-muslim. Dengan demikian, ekosistem halal memiliki potensi yang besar untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, yang dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi umat muslim, tetapi juga bagi masyarakat global secara keseluruhan.

Pentingnya ekosistem halal juga terlihat jelas dalam konferensi dan forum internasional yang menyoroti halal sebagai lebih dari sekadar industri, tetapi sebagai bagian integral dari ekonomi global yang menjanjikan. Dengan nilai bisnis yang besar, ekosistem halal menawarkan peluang bagi masyarakat Muslim dan non-Muslim untuk berpartisipasi dalam pasar yang bernilai triliunan dolar. Ini adalah kesempatan untuk memasuki pasar yang dinamis dan berkembang, yang menjanjikan keberlanjutan dan pertumbuhan jangka panjang.

Tinggalkan komentar