Istana Kapas dan Kota Orang Mati

~

“Weekend ini jalan yuk?” Kata Anton Pagi-pagi begitu sampai dikantor. “Hah? kan gak ada long weekend minggu ini. libur cuma Sabtu Minggu. Mau ke Istanbul?” jawabku kaget sambil makan Simit1 . “Enggak, nyari Salju yang enggak dingin..” jawabnya sambil sibuk di depan laptop. Sepertinya dia sedang browsing tujuannya. Aku geser kursi ke dekat meja Dia, ternyata benar, dia lagi cari-cari informasi di internet. “menarik.. tapi aku belum pernah keluar jauh selama di sini. Gak ngerti apa-apa aku” jawabku ringan. “Beres… ini lagi nyari-nyari. Selama ada internet dan HP mah Insyaallah lancar.” jawabnya PD. Aku bergeser ke meja kerjaku dan melakukan hal yang sama, mencari informasi.

Jumat pun tiba. “Udah beres semua Dan?” tanya Anton pagi di apartemen. “Gak bawa apa-apa kan? katanya gak pake acara inep. Baju ganti aja ama jacket aja ini.” jawabku dari kamar sambil beres-beres. “Iya, gak usah banyak-banyak. Tiket udah beli kemrin, gak usah inep, biar minggunya bisa istirahat dirumah” jawabnya. “ntar balik kerja, makan malam bentar terus langsung cabut. Tiket jam 10 malam nanti dari Otogar2 ” lanjutnya. “Oke Bos, ngikut aja aku” jawabku. Belum ada satu tahun aku Cerkezkoy, paling jauh jalan cuma ke Istanbul. Masih beradaptasi dengan negara dan lingkungan di sini, jadi ikut saja dengan Anton yang memang sudah lebih lama tinggal di Cerkezkoy.

Jam 5 sore mobil service3 sudah antre siap menunggu di depan kantor. gak usah basa-basi dengan Bos, jam 5 teng langsung saja packing dan keluar kantor. 5.30 mobil-mobil service meluncur mengantarkan ke drop point masing-masing. Tidak lama sampai di Apartemen, dalam diam kami masing-masing mengecek tas dan persiapan kami. Setelah makan malam, kami berangkat ke Otogar. Pukul 09.30 malam kami sudah menunggu bis datang. Tak lama, Bus yang kami tunggu datang. Hiruk pikuk orang naik turun bus bersanding dengan dinginnya malam itu. Tanpa menunggu lama, Bis ini keluar terminal dan bergerak lincah di jalanan.

Bus malam ini tidak langsung menuju ke tempat tujuan. Karena bis umum, dia berhenti di beberapa terminal. Sekedar untuk sopir istirahat sejenak maupun penumpang yang ingin ke toilet atau mencari makanan di terminal. Meski malam, aku gak bisa sepenuhnya tidur, ada perasaan penasaran bercampur senang dengan perjalanan ini. Sekitar 2 jam perjalanan tiba di pelabuhan penyeberangan feri. Canakkale4, sampai di kota pelabuhan ini semua penumpang diminta turun dari bis selama penyeberangan. Hawa dingin masih terasa, namun menyegarkan.

Ombak berdebur diiringi dengan suara mesin kapal. dari kejauhan samar-samar terdengar orang berbincang. Sambil minum teh hangat, feri ini menyeberangi selat Dardanelles yang menyambungkan laut Marmara dengan laut Aegea. Canakkale merupakan kota yang berdekatan dengan Kota Kuno Troy. Sayangnya aku gak sempat mengeksplore kota ini. Perjalanan kami masih berlanjut.

Bis berhenti beberapa kali lagi di beberapa terminal. Entah berapa terminal terlewati, tidak sempat menghitung karena akhirnya aku tertidur juga. Kami terbangun dikala mentari sudah bersinar terang, dan tak lama kami sampai di terminal tujuan. Lambang Ayam Jantan terlihat dimana-mana, kami sampai di Denizli Otogar.

Sebagai orang asing kami masih tidak bisa lancar berbicara bahasa Turki dan sepertinya di daerah sini juga tidak banyak yang dapat berbicara dengan bahasa Ingris. Dengan modal internet dan bahasa tubuh serta percakapan Turkish secukupnya Anton mencari tahu transportasi selanjutnya. Kamipun melanjutkan perjalanan dengan mobil semacam angkot ke lokasi. mungkin sekitar 30-40 menit perjalanan ini. Akhirnya kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 pagi.

Pamukkale5. Pamuk berarti Kapas, Kale berarti Istana/Benteng. Pamukkale bisa diartikan sebagai Istana Kapas. Hamparan Putih itu menyelimuti perbukitan di depan. Pamukkalle menjadi salah satu destinasi wisata utama di Turki. Tidak banyak ada Travertine sejenis ini di dunia, susunan endapan kapur kaya mineral sumber air panas yang mengalir dari atas bukit dan menyelimutinya dengan lapisan putih. Dari jauh terkesan seperti salju, putih tertata sepanjang bukit. Cuaca cerah menambah indahnya Istana Kapas ini.

Kami masuk ke lokasi wisata ini dengan Muzekart6 . Meskipun masih pagi, namun sudah ramai pengunjung. Kami melepas Sepatu di sini, karena lokasi ini sesekali masih berupa genangan air dan ada air mengalir di antaranya.

Dari dekat hamparan putih ini tidak seputih Salju namun cukup menyilaukan ketika matahari mulai meninggi. Sayangnya tidak banyak kolam-kolam air bertingkat yang seperti di google-goole itu. Meskipun demikian pemandangan travertine ini tetap menakjubkan.

Kami datang di waktu yang tepat, di mana suhu udara tidak terlalu panas namun tidak juga dingin, cukup bersahabat tanpa perlu jacket. Tracking dari kaki bukit sampai atas lumayan menguras energi. Namun semua itu terbayarkan dengan pemandangan indah di bawahnya. Hamparan luas wilayah Denizli dengan latar belakang Gunung dan perbukitan dengan pemandangan putih di sekitarnya.

Kami terus menjelajah sudut Pamukkale, di atas hamparan “Kapas” ini, dahulu dibangun Kota Yunani Kuno Hierapolis. Dahulu kota ini dianggap sebagai Kota Suci. Kemegahan Kota Kuno ini masih tersirat dari reruntuhan bangunannya yang tersisa.

Bangunan Yunani Kuno selalu identik dengan pilar-pilah tinggi. Hal ini yang Aku sukai dari reruntuhan kuno. Bisa di bayangkan seberapa megahnya jaman dahulu ketika kota ini masih sempurna.

Perjalanan panjang ini terbayarkan dengan kepuasan yang tak ternilai ini. Mengagumi sisa-sisa peradaban jaman dulu.

Explorasi kami masih berlanjut ke sudut kota tua ini. Kami juga menemukan teater jaman dahulu. Romawi terkenal juga dengan seni pertunjukan. Dahulu kala disini digunakan untuk acara-acara seni, orkestra dan teatrical. Mungkin dipakai juga untuk pertunjukan gladiator.

Sebagai Kota Suci, Hierapolis juga dilengkapi dengan berbagai macam Kuil. Ada beberapa Kuil Kuno yang reruntuhannya masih bisa terlihat. Temple of Appolo, mungkin yang paling dikenal. Selain itu terdapat juga kuil Artemis, Pluto, Poseidon dan lain-lain.

Kuil-Kuil kuno ini beserta Komplek peribadatan tersebar di salah satu sudut bukit tertinggi di Hierapolis ini. Terdapat berbagai macam bangunan kompleks kuil penyembahan dewa-dewa yang sisa-sisanya masih bertahan dari gerusan waktu. Predikat Kota Suci sangat cocok diberikan ke Hierapolis, posisi kota yang di perbukitan, disertai dengan sumber air panas yang konon bisa menyembuhkan, serta tatanan kota yang apik.

Kami melanjutkan perjalanan mengeksplorasi Hierapolis ini. Jalan setapak beralaskan tataan batu rapi membelah kota kuno ini, menjadikan kota ini terlihat seperti kota besar jaman sekarang.

Diujung jalan, terdapat salah satu bagian lain dari Hierapolis. Necropolis, Kota Orang Mati. Komplek besar pekuburan kuno ini berisi reruntuhan makam kuno. Makam-makam ini diletakkan dalam ruang-ruang kotak, mungkin saja berbentuk rumah dahulunya. Yang tersisa sekarang hanya dinding-dinding batu.

Di sini banyak ditemui sarkofagus besar berjejer sepanjang area. Komplek pemakaman ini cukup luas, dengan jalan batu di tengahnya, sehingga seakan-akan membentuk Kota tersendiri. Tentu saja tidak ada satu pun tulang belulang di dalamnya, paling tidak dari sarkofagus-sarkofagus yang Aku tengok. Meskipun tidak terkesan angker seperti di Pekuburan, namun rasa sepi senyap cukup terasa di antara luasnya perbukitan ini.

Jika tertarik dengan reruntuhan dan object kuno, Pamukalle dapat menjadi tujuan wisata yang menarik. Komplek-nya sangat luas, jadi bisa benar-benar puas menjelajah setiap sudut Kota Kuno sampai Kota orang Mati. Baiknya kesini ketika musim semi, di mana udara masih dingin namun matahari sudah menyinari.

Setelah selesai mengeksplorasi Kota Mati, kami kembali ke Hierapolis dan Traventine. Mungkin sumber air sedang tidak banyak, ataupun memang sudah berkurang dibandingkan dengan jaman dahulu, karena di beberapa lokasi traventine hanya terlihat hamparan tanah kosong.

Bersantai sejenak, melepas lelah berjalan jalan dipinggir Traventine. Hanya tersisa sedikit lapisan “Kapas”, namun pandangan luas dari atas perbukitan, disertai dengan semilir angin semi cukup menghilangkan lelah.

Setelah menjelajah komplek ini selama kurang lebih 6 jam, kami kembali ke Denizli Otogar. Menunggu Bis pukul 4 sore yang akan mengantarkan kami kembali ke Cerkezkoy hari itu juga.

Perjalanan yang pendek namun menyenangkan. Melihat Salju yang tak dingin atau kapas yang tak keras dan lembut di Pamukkale. Menjelajah Kota Kuno Hierapolis. Mengagumi kemegahan arsitektur dan komplek kuil kuil kuno. Berjalan di Kota Orang Mati yang tetap terlihat megah di tengah kesepian dan kesunyian.

Kenangan di Hierapolis – Pamukkalle 2017

QUICK FACT:

~

disclaimer: Perjalanan ini sudah saya lakukan pada tahun 2017. Detail waktu dan cerita berdasarkan ingatan. Foto dokumentasi merupakan hasil jepretan sendiri. Kelengkapan detail cerita mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang. Terimakasih

Footnote:

  1. Roti bagel khas Turki, berselimut wijen. biasanya dimakan sambil nge-teh. ↩︎
  2. Otogar berarti Terminal. ↩︎
  3. Mobil antar jemput karyawan yang disediakan oleh perusahaan. ↩︎
  4. Çanakkale – Wikipedia ↩︎
  5. Pamukkale – Wikipedia ↩︎
  6. Kartu Akses Musium. Dengan sekali mendaftar dengan syarat dan ketentuan berlaku, kartu ini dapat menjadi tiket masuk ke berbagai musium di Turki. ↩︎

Tinggalkan komentar